TNG Daily– Dulu, kalau ngomongin “olahraga”, bayangannya pasti lari di lapangan, keringetan, atau adu fisik. Sekarang? Coba tanya anak muda. Buat mereka, olahraga juga berarti duduk di depan layar, adu strategi pakai mouse dan keyboard.
Ya, eSports kini bukan cuma “main game”, tapi sudah jadi bagian dari redefinisi olahraga di era digital. Fenomena ini mengubah cara pandang kita soal kompetisi, prestasi, dan apa artinya menjadi seorang “atlet”.
Kenapa eSports Dianggap Serius?
Sering banget kita dengar komentar, “Ah, itu kan cuma main game, kok disebut olahraga?” Eits, tunggu dulu. Coba kita bedah lebih dalam.
Olahraga, pada intinya, adalah soal kompetisi, strategi, dan keterampilan. eSports punya semua itu. Seorang atlet eSports profesional latihannya nggak main-main, bisa berjam-jam sehari. Mereka tidak hanya bermain, tapi melatih refleks (koordinasi mata-tangan), strategi tim yang kompleks, sampai ketahanan mental di bawah tekanan tinggi.
Beda dengan main game buat fun, eSports itu terstruktur. Ada liga profesional, ada turnamen akbar, dan ada tim yang solid dengan pelatih dan analis. Ini bukan lagi soal hobi pengisi waktu luang, tapi soal profesi yang butuh disiplin tinggi, sama seperti atlet cabang olahraga (cabor) lainnya.
Bukan Cuma Soal Main, Tapi Industri Raksasa

Kalau masih ragu, kita lihat angkanya. Industri eSports global kini bernilai miliaran dolar. Hadiah turnamen besar seperti “The International” (Dota 2) atau “Worlds” (League of Legends) bisa bikin kita auto melongo, totalnya mencapai puluhan juta dolar.
Penontonnya? Jangan ditanya. Stadion bisa penuh sesak hanya untuk nonton orang berkompetisi game, dan live streaming-nya ditonton oleh jutaan orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, antusiasme ini luar biasa tinggi. Kita punya banyak tim profesional yang diakui di level Asia Tenggara, bahkan dunia.
Fenomena ini akhirnya menciptakan ekosistem baru. Muncul profesi seperti caster (komentator game), analis pertandingan, manajer tim, sampai event organizer khusus eSports. Ini adalah industri serius yang membuka banyak lapangan kerja baru untuk anak muda.
Olahraga Tradisional vs Digital: Harus Pilih?
Oke, jadi apakah eSports bakal menggantikan sepak bola atau basket? Kayaknya nggak juga. Ini bukan soal menggantikan, tapi melengkapi.
Olahraga tradisional jelas menawarkan kesehatan fisik, aktivitas luar ruang, dan interaksi sosial langsung. Lari sore keliling kompleks atau main futsal bareng teman tetap nggak ada tandingannya untuk bikin badan bugar. (Baca juga di TNG Daily: Digital Detox: 24 Jam Tanpa HP, Bisa Nggak Sih?)
Di sisi lain, eSports menawarkan aksesibilitas. Nggak semua orang punya bakat fisik lari kencang atau postur tubuh ideal untuk basket. Tapi, mungkin mereka punya bakat strategi digital yang luar biasa atau refleks jari yang super cepat. eSports membuka pintu kompetisi bagi lebih banyak orang, terlepas dari kondisi fisik mereka.
Inilah inti dari redefinisi olahraga. Fokusnya bergeser dari “seberapa kuat fisikmu” menjadi “seberapa hebat strategimu” atau “seberapa cepat refleksmu”.
Ketika eSports Dapat “Lampu Hijau” Resmi
Puncaknya, eSports kini sudah dapat pengakuan resmi. Di level global, ada federasi seperti International Esports Federation (IESF).
Di Indonesia? Jangan salah, Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) sudah resmi diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Artinya, eSports sudah sah menjadi salah satu cabang olahraga prestasi.
Atlet eSports bahkan ikut membela negara di ajang multinasional seperti SEA Games dan Asian Games, dan mereka sukses bawa pulang medali. Ini bukti nyata kalau eSports bukan lagi sekadar hobi di kamar, tapi sebuah arena prestasi yang membanggakan.
Kompetisi Adalah Jawabannya
Akhirnya, perdebatan soal “olahraga atau bukan” mungkin bakal terus ada. Tapi yang jelas, anak muda sudah menemukan cara baru buat berkompetisi dan berprestasi. eSports adalah bukti bahwa “olahraga” adalah konsep yang hidup dan terus berevolusi, sama seperti teknologi.
Jadi, kalau lihat teman atau adik kamu lagi serius di depan layar, jangan buru-buru dibilang malas. Siapa tahu, dia lagi latihan jadi atlet masa depan.
Menurut kamu, apa eSports sudah layak disandingkan penuh dengan olahraga tradisional?
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: Oktober 30, 2025





