TNG Daily– Coba cek screen time kamu minggu ini. Ngeri, ya? Rasanya, hidup kita sekarang nempel banget sama layar HP. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, yang dicari pasti smartphone. Notifikasi jadi penanda eksistensi, dan scrolling udah kayak ritual wajib.
Tapi, pernah kepikiran nggak sih, gimana rasanya kalau kita coba “puasa” gadget, alias digital detox, barang 24 jam aja? Kedengarannya mustahil, tapi mungkin justru itu yang kita butuhin.
Kenapa Kita Makin Lengket Sama Layar?
Fenomena ini ada alasannya. Setiap kita dapat like, komen, atau sekadar notifikasi baru, otak kita melepas dopamin—hormon yang bikin rasa senang. Mirip kayak pas kita makan enak atau menang game.
Masalahnya, otak kita jadi ketagihan “hadiah” instan itu. Kita jadi gampang bosan, susah fokus, dan terus-menerus butuh validasi dari dunia maya.
Hasilnya? Kita jadi gampang cemas, sering banding-bandingin hidup kita sama feed Instagram orang lain, dan kualitas tidur pun berantakan. Kita sering dengar istilah doomscrolling—scrolling konten negatif terus-menerus yang bikin kita makin stres. Inilah saatnya konsep digital detox masuk.
Tantangan 24 Jam: Dari FOMO Sampai Mati Gaya
Jujur aja, 24 jam tanpa HP itu berat. Reaksi pertama yang mungkin muncul adalah FOMO alias Fear Of Missing Out.
Kita cemas takut ketinggalan berita viral, gosip terbaru, atau sekadar update dari teman. Rasanya kayak terputus dari peradaban. Padahal, dunia nggak akan runtuh cuma karena kita nggak online sehari.
Tantangan berikutnya adalah… mati gaya.
Waktu nunggu pesanan kopi, nunggu KRL di Stasiun Tangerang, atau bahkan pas lagi di toilet, refleks kita pasti ngambil HP. Tanpa HP, kita dipaksa buat diem, ngelamun, atau ngelihatin sekitar. Aneh, kan? Kita jadi lupa caranya menikmati jeda tanpa distraksi.
Manfaat ‘Digital Detox’ yang Nggak Kaleng-Kaleng

Tapi, kalau kita berhasil ngelewatin rasa aneh di jam-jam pertama, manfaatnya ternyata sepadan.
Pertama, kualitas tidur kemungkinan besar bakal membaik. Berbagai studi, termasuk dari Sleep Foundation, udah buktiin kalau blue light dari layar HP bisa mengganggu produksi melatonin, hormon yang ngasih sinyal ngantuk ke tubuh. Tanpa main HP sebelum tidur, otak jadi lebih gampang “matiin mesin”.
Kedua, fokus jadi lebih tajam. Tanpa distraksi notifikasi yang muncul tiap lima menit, kita bisa lebih khusyuk ngerjain sesuatu. Entah itu baca buku yang numpuk, nulis draft skripsi, atau sekadar ngobrol sama orang tua.
(Baca juga artikel kami lainnya: Suka Nonton Film Sedih Meski Bikin Nangis? Ini Alasan Psikologisnya)
Yang paling penting, kita jadi lebih present atau hadir di momen nyata. Kita jadi lebih sadar sama lingkungan sekitar. Obrolan tatap muka jadi lebih dalam karena kita nggak sibuk curi-curi pandang ke layar.
Jadi, Gimana Cara Mulainya?
Nggak perlu langsung ekstrem. Kalau 24 jam terasa berat, coba mulai dari langkah-langkah kecil.
- Tentukan “Jam Bebas HP”. Misalnya, satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun tidur, HP harus ada di mode airplane atau bahkan di luar kamar.
- Matiin Notifikasi Nggak Penting. Cuma aktifin notifikasi buat panggilan darurat atau pesan dari orang terdekat. Notifikasi diskon e-commerce atau like media sosial? Cek nanti aja pas senggang.
- Cari Aktivitas Pengganti. Sebelum memulai digital detox 24 jam, rencanain kamu mau ngapain. Baca buku, olahraga, masak, atau mungkin jalan-jalan keliling komplek (siapa tahu nemu coffee shop baru yang enak).
- Kasih Tahu Orang Terdekat. Ini penting. Bilang ke keluarga atau pacar kalau kamu lagi “puasa” HP selama 24 jam biar mereka nggak khawatir dan nggak mikir kamu hilang.
Digital detox bukan berarti kita benci teknologi atau anti-sosial. Ini cuma cara kita buat ngatur ulang prioritas dan ngasih otak istirahat yang layak. Biar gimanapun, hidup kita yang asli ada di luar layar kaca itu.
Jadi, kira-kira kamu bakal ngapain kalau 24 jam ke depan hidup tanpa HP?
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: Oktober 30, 2025





