TNG Daily– Rasanya baru kemarin kita semua didoktrin buat “kerja keras bagai kuda”. Tapi, belakangan ini, makin banyak anak muda yang bilang, “Makasih, tapi gue pilih waras.” Fenomena inilah yang melahirkan tren gaya hidup ‘soft life’.
Bukan berarti malas, tapi ini soal mengatur ulang prioritas di tengah dunia yang serba menuntut. Ini adalah antitesis dari hustle culture yang selama ini mengagungkan kesibukan.
Kenapa ‘Hustle Culture’ Mulai Ditinggalkan?
Selama bertahun-tahun, kita dicekoki ideologi hustle culture. Idenya adalah: kerja gila-gilaan sekarang, baru nikmati hasilnya nanti. Tapi pertanyaannya, ‘nanti’-nya kapan?
Gen Z dan Milenial di garda depan mulai sadar, harga yang dibayar—stres, cemas, dan burnout—seringkali tidak sepadan dengan hasilnya. Apalagi, target hidup “mapan” versi lama, seperti punya rumah atau kendaraan pribadi, terasa makin sulit dicapai oleh banyak orang.
Pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu ikut jadi katalisator. Ketika batas antara kantor dan rumah makin kabur akibat WFH (Work From Home), kesehatan mental tiba-tiba jadi prioritas nomor satu.
Faktanya, data tidak bohong. Berdasarkan survei Deloitte Global 2023 Millennial and Gen Z Survey, 46% Gen Z dan 38% Milenial di dunia merasa burnout akibat intensitas dan tuntutan pekerjaan mereka. Hasilnya, mereka mulai mencari cara hidup alternatif.
Jadi, Apa Sebenarnya Arti Gaya Hidup Soft Life?
Penting untuk diluruskan: soft life bukan berarti jadi pemalas, anti-kerja, atau lari dari tanggung jawab.
Ini lebih soal redefinisi sukses.
Kalau dulu sukses identik dengan jabatan mentereng, gaji dua digit, atau posting lembur di media sosial, soft life menggeser fokusnya. Sukses dalam kacamata soft life adalah punya kedamaian pikiran (peace of mind), bisa tidur nyenyak, dan punya waktu untuk diri sendiri serta orang terkasih.
Gaya hidup ini menolak glorifikasi “sibuk”. Karena faktanya, sibuk belum tentu produktif, kan?
Soft life adalah soal bekerja lebih cerdas (work smarter), bukan sekadar lebih keras (work harder). Ini tentang menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Bukan Cuma Estetika, Ini Implementasi Nyatanya

Di media sosial, soft life sering digambarkan dengan sangat estetik: piknik cantik di taman, slow morning dengan secangkir kopi, atau membaca buku di sore hari. Tapi esensinya jauh lebih dalam dari sekadar visual.
Implementasinya adalah soal pilihan sadar sehari-hari.
1. Menetapkan Batasan (Boundaries) Ini adalah inti dari soft life. Ini berarti berani bilang “tidak” pada pekerjaan di luar jam kerja, menolak lembur yang tidak esensial, dan mematikan notifikasi grup kantor saat akhir pekan. Batasan ini penting untuk “mengisi ulang” energi mental.
2. Bekerja Sesuai Porsi Fenomena quiet quitting (bekerja sesuai deskripsi pekerjaan, tidak lebih) adalah salah satu turunan dari soft life. Idenya adalah memberikan yang terbaik di jam kerja, tapi setelah jam kerja selesai, fokus beralih ke kehidupan pribadi.
3. Menikmati Hal Sederhana (Mindfulness) Soft life juga berarti menghargai proses kecil. Misalnya, benar-benar menikmati sarapan tanpa terburu-buru, jalan kaki sore, atau sekadar mendengarkan musik tanpa melakukan hal lain. Ini adalah latihan mindfulness untuk hadir di saat ini.
4. Memprioritaskan Kesehatan Daripada menghabiskan uang untuk barang mewah, penganut soft life mungkin lebih memilih mengalokasikan dana untuk terapi, kelas yoga, atau membeli makanan sehat. Kesehatan mental dan fisik adalah investasi utama. (Baca artikel kami lainnya: Coworking vs Coffee Shop: Mana yang Lebih Produktif Buat Kerja?).
Soft Life: Antara Solusi dan Privilese
Tentu saja, gaya hidup ini tidak luput dari kritik. Banyak yang berargumen kalau soft life adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang punya privilege finansial.
Ada benarnya. Sulit bicara soal “hidup tenang” kalau kebutuhan dasar dan tagihan bulanan saja masih jadi perjuangan.
Tapi di sisi lain, esensi soft life—yaitu menetapkan batasan dan menghargai kewarasan—sebenarnya bisa diadaptasi di berbagai level. Mungkin wujudnya bukan liburan mewah, tapi sesederhana menolak toxic positivity atau mengambil jeda 10 menit untuk bernapas di tengah jam kerja yang runyam.
Pada akhirnya, soft life adalah pengingat bahwa hidup bukan cuma soal ‘gas terus’. Ini adalah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah cara hidup gue sekarang sudah bikin gue bahagia?”
Mungkin soft life versi kita tidak akan terlihat estetik seperti di Instagram, dan itu sama sekali tidak masalah.
Jadi, kalau menurut kamu, soft life itu sebuah kebutuhan atau cuma tren sesaat?
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: Oktober 30, 2025





