TNG Daily– Mulai sadar nggak, sih? Pilihan film di bioskop dan layanan streaming belakangan ini makin punya pola. Kalau 2024 kemarin jadi ajang pemanasan, 2025 kelihatannya bakal jadi panggung utama bagi tiga tema besar. Bicara soal tren film 2025, kita kayaknya nggak bisa menghindar dari nostalgia yang bikin nyaman, pusingnya multiverse, dan cerita-cerita yang makin jujur nan personal.
Industri film global lagi beradaptasi cepat. Setelah melewati masa-masa berat pandemi dan gempuran streaming, studio besar hingga sineas independen kini mencari formula baru untuk menarik kita—audiens Gen Z dan Milenial—agar mau kembali ke bioskop atau setidaknya bertahan menonton di layar kaca.
Hasilnya? Tiga tren besar ini muncul bukan tanpa alasan.
Hantaman Nostalgia: Saat yang Lama Terasa Nyaman
Coba hitung, berapa banyak reboot, remake, atau sekuel dari film puluhan tahun lalu yang kamu tonton setahun terakhir? Banyak, kan?
Tren nostalgia ini diperkirakan masih akan sangat kuat di 2025. Tengok saja kesuksesan besar film-film yang membangkitkan kenangan, seperti Barbie (2023) atau Petualangan Sherina 2 (2023) di kancah lokal. Studio film sadar betul bahwa di tengah dunia yang serba tidak pasti, audiens mencari sesuatu yang familiar dan aman.
Nostalgia itu ibarat comfort food, tapi buat mata dan batin. Menonton kembali karakter yang kita kenal sejak kecil memberikan rasa aman yang sulit ditandingi film baru.
Meskipun begitu, formula ini juga berisiko. Kalau sekadar “menjual kenangan” tanpa ada cerita baru yang relevan, audiens sekarang cukup cerdas untuk menolaknya. Nostalgia yang berhasil adalah yang mampu mengemas cerita lama dengan perspektif baru yang lebih segar.
Tren Film 2025: Multiverse yang Belum Mereda

Kalau kamu mulai pusing tiap kali film superhero membahas timeline alternatif, kamu nggak sendirian. Tapi nyatanya, konsep multiverse atau jagat paralel ini belum akan berakhir.
Setelah Marvel mempopulerkannya dan Everything Everywhere All at Once (2022) membawanya ke level pemenang Oscar, banyak studio lain tertarik mengeksplorasi tema ini. Kenapa? Karena multiverse memberikan kanvas tak terbatas bagi kreator untuk bermain “gimana jadinya kalau…”.
Bagi kita sebagai penonton, tema ini menawarkan pelarian (eskapisme) yang seru. Ini adalah fantasi modern. Di sisi lain, multiverse juga sering dipakai sebagai alat untuk mengeksplorasi penyesalan, pilihan hidup, dan identitas diri.
Tantangannya adalah eksekusi. Tren film 2025 kemungkinan akan memilah mana film yang menggunakan multiverse sebagai inti cerita yang cerdas, dan mana yang hanya menjadikannya gimik visual.
Era Baru ‘Personal Storytelling’: Biopik dan Kisah Jujur
Di spektrum yang berlawanan dari multiverse yang rumit, ada satu tren yang justru makin membumi: cerita personal dan otentik.
Kita kayaknya mulai sedikit jenuh dengan efek CGI yang berlebihan atau skala cerita yang terlalu besar. Audiens kini mendambakan otentisitas—cerita yang terasa jujur, dekat, dan “manusiawi”.
Lihat saja bagaimana film-film biografi (biopic) seperti Oppenheimer (2023) mendominasi percakapan. Penonton ingin melihat sisi lain dari tokoh sejarah, lengkap dengan segala kerumitan dan masalah personal mereka. Selain itu, film-film independen dengan bujet lebih “jujur” yang mengangkat isu sehari-hari juga makin dapat tempat.
Gen Z, khususnya, dikenal sebagai generasi yang menghargai transparansi. Film yang terasa “dibuat-buat” atau terlalu dipoles akan mudah ditinggalkan.
Apa Artinya Ini buat Sinema Lokal?
Industri film Indonesia juga nggak ketinggalan kereta. Sineas lokal tampaknya sangat jago dalam merespons tren cerita personal.
Film-film seperti Agak Laen (2024) atau Ngeri-Ngeri Sedap (2022) membuktikan bahwa cerita yang berangkat dari keresahan lokal, dibalut komedi yang relatable, bisa meledak di pasar. Cerita mereka dekat dengan kehidupan kita.
Sementara untuk nostalgia, kita sudah buktikan lewat Ada Apa Dengan Cinta? 2 atau Petualangan Sherina 2. Tinggal menunggu, apakah sineas kita juga akan mulai berani bermain-main dengan konsep multiverse di luar genre horor fantasi?
Pada akhirnya, tren film 2025 menunjukkan bahwa kita, sebagai penonton, sedang mencari keseimbangan. Kita butuh kenyamanan dari masa lalu (nostalgia), butuh pelarian dari realitas (multiverse), tapi juga sangat butuh kejujuran (cerita personal).
Jadi, dari tiga tren besar ini, mana yang paling bikin kamu rela meluangkan waktu dan uang untuk nonton?
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: Oktober 30, 2025





