Waspada Pneumonia, Kota Tangerang Jadi Wilayah Tertinggi di Banten

S. Reja

Ilustrasi Kondisi Paru Paru Pneumonia di Kota Tangerang
Ilustrasi kondisi pasien Pneumonia. Foto: Unsplash/CDC

TNG Daily– Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten merilis data terbaru mengenai kasus pneumonia yang menunjukkan tren peningkatan. Hasilnya, Kota Tangerang tercatat sebagai wilayah dengan angka kasus tertinggi di Banten sepanjang periode Januari hingga Oktober 2024.

Menurut catatan Dinkes Banten, total kasus di provinsi itu telah mencapai 8.043 pasien. Angka ini melampaui total temuan sepanjang tahun 2023, yang berhenti di angka 7.915 kasus.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Banten, Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, membenarkan data tersebut. Ia merinci bahwa Kota Tangerang menjadi kontributor utama lonjakan kasus ini.

“Paling tinggi Kota Tangerang 2.417 kasus,” kata Ati, Jumat (24/10/2025), dilansir dari Tribun Tangerang.

Sementara itu, wilayah Tangerang Raya lainnya menyusul di bawahnya. Tangerang Selatan mencatat 1.109 kasus, dan Kabupaten Tangerang berada di posisi ketiga dengan 1.082 kasus.

Ancaman Serius untuk Kesehatan Anak

Peningkatan kasus ini menjadi sorotan karena pneumonia bukan sekadar infeksi ringan. Di panggung global, penyakit ini merupakan ancaman serius, khususnya bagi populasi rentan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pneumonia sebagai salah satu pembunuh utama anak-anak. Menurut data WHO, pneumonia menyumbang 14% dari seluruh kematian anak di bawah usia 5 tahun, atau setara dengan 740.180 kematian anak pada 2019.

WHO menjelaskan bahwa pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk virus, bakteri, atau jamur.

Kabar baiknya, penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi, pemenuhan gizi yang memadai, dan perbaikan faktor lingkungan. Namun, WHO menyoroti tantangan pengobatan.

Untuk kasus yang disebabkan bakteri, antibiotik adalah kuncinya. WHO mencatat, baru sekitar sepertiga anak penderita pneumonia di dunia yang mendapatkan akses antibiotik yang mereka butuhkan.

Dominasi Bakteri Atipikal di Banten

Kembali ke konteks lokal, Ati menjelaskan bahwa sebagian besar kasus pneumonia yang merebak di Banten saat ini disebabkan oleh bakteri atipikal, yaitu Mycoplasma pneumoniae.

Jenis bakteri ini menjadi perhatian karena umum menyerang anak-anak dan orang dewasa muda. Ini menjadikannya relevan untuk diwaspadai oleh warga Tangerang yang berada di rentang usia produktif.

Gejala yang ditimbulkan seringkali mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau flu biasa.

“Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri dada, hingga sesak napas,” jelas Ati.

Pencegahan Lewat PHBS dan Masker

Penularan Mycoplasma pneumoniae terjadi melalui droplet atau percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Karena penularannya yang mudah, langkah pencegahan menjadi kunci utama.

Dinkes Banten mengimbau masyarakat untuk kembali disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Menjaga pola makan bergizi, memastikan istirahat cukup, dan rutin berolahraga sangat disarankan untuk menjaga imunitas.

“Terapkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Bila sedang sakit, gunakan masker agar tidak menulari orang lain,” tambah Ati.

Pihak Dinkes juga mengingatkan warga untuk tidak melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi) jika mengalami gejala yang mengarah pada pneumonia. Masyarakat di Kota Tangerang dan wilayah lainnya diminta segera mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: Oktober 24, 2025

Komentar Pembaca

  • Belum ada komentar di sini Jadilah yang pertama berkomentar
Home Trending Explore Discover Menu