5 Jenis Kopi yang Harus Dicoba Sebelum Bilang ‘Gue Anak Cafe

S. Reja

Mengetahui Jenis Kopi di Coffee Shop
Foto: Pexels/Quang Nguyen Vinh

TNG Daily– Nongkrong di coffee shop emang udah jadi bagian dari lifestyle. Tiap sudut kota pasti ada aja tempat baru yang estetik. Foto OOTD, laptop nyala, dan segelas es kopi susu gula aren di meja. Semua orang bisa jadi ‘anak cafe’.

Tapi, tunggu dulu. Yakin udah beneran ‘ngopi’?

Seringkali, kita cuma pesan menu yang itu-itu aja karena paling aman. Padahal, dunia kopi itu jauh lebih luas dari sekadar es kopi susu kekinian yang manis dan creamy.

Kalau lo serius mau explore dan paham apa yang lo minum, ada beberapa jenis kopi esensial yang harus dicoba. Ini bukan soal gengsi, tapi soal apresiasi rasa.

Mengapa Cuma Es Kopi Susu Nggak Cukup?

Nggak ada yang salah dengan es kopi susu. Itu comfort drink kita semua. Minuman ini sukses besar membawa gelombang kopi ketiga (Third Wave Coffee) jadi lebih merakyat di Indonesia.

Masalahnya, gula aren dan susu kental manis seringkali menutupi karakter asli dari biji kopinya. Rasanya jadi seragam: manis, creamy, dan kopinya ‘sopan’ di belakang.

Hasilnya, kita jadi nggak tahu bedanya kopi Gayo, Kintamani, atau Flores. Padahal, di situlah letak keunikan kopi. Menjajal jenis kopi lain membuka pintu ke pengalaman rasa yang beda total.

5 Jenis Kopi yang Menguji Status ‘Anak Cafe’ Lo

Jika lo siap naik kelas dari sekadar ‘konsumen’ menjadi ‘penikmat’, lima minuman ini adalah gerbang masuknya. Ini adalah fondasi untuk memahami ratusan menu kopi lainnya.

1. Espresso (Si Shot Kuat Penentu Segalanya)

Close-up of espresso pouring from a shiny coffee machine into a white cup, perfect for lovers of caffeine and barista art.
Foto: Pexels/Chevanon Photography

Ini adalah jantung dari hampir semua menu di coffee shop. Espresso adalah ekstraksi kopi murni sekitar 30 ml yang dibuat dengan mesin bertekanan tinggi.

Lo nggak bisa bohongin rasa espresso. Nggak ada gula, nggak ada susu, nggak ada es batu. Di sini lo bakal tahu: kopi ini rasanya fruity (asam segar), nutty (kacang-kacangan), atau jangan-jangan gosong?

Rasanya memang intens, bodinya kental, dan seringkali memiliki acidity (keasaman) yang jelas. Mencoba espresso murni setidaknya sekali bakal mengubah cara lo memandang house blend kafe favorit lo.

2. Americano / Long Black (The Honest Cup)

ice coffee, cafe, drinks, cool, americano, break, ice coffee, ice coffee, ice coffee, ice coffee, ice coffee
Foto: Pixabay/709K

Ini adalah cara ‘jujur’ menikmati kopi hitam tanpa intensitas seekstrem espresso. Sederhananya, ini adalah espresso yang ditambah air panas.

Bedanya tipis tapi penting. Long Black biasanya espresso dituang di atas air panas (kremanya terjaga). Sementara itu, Americano adalah air panas dituang di atas espresso.

Ini adalah tes yang bagus untuk tahu apakah house blend sebuah kafe cocok di lidah lo atau nggak, sebelum lo ‘rusak’ pakai susu atau gula. Kalau americano-nya enak, kemungkinan besar menu turunannya juga aman.

3. Cappuccino (The Classic Balance)

a cup of coffee on a saucer with a book in the background
Foto: Unsplash/Iman Permana

Bukan, ini bukan sachet-an instan. Cappuccino asli adalah perpaduan presisi antara espresso, steamed milk (susu panas), dan microfoam (busa susu) yang tebal di atasnya.

Lupakan latte art sejenak. Fokus ke rasanya. Cappuccino yang benar harus punya keseimbangan pas. Kopinya masih ‘nendang’, tapi dihaluskan oleh manis alami dari susu yang di-steam dengan benar (proses steaming memecah laktosa jadi gula alami).

Beda dengan Cafe Latte yang susunya lebih dominan dan foam-nya tipis, cappuccino itu lebih bold dan foamy. Ini adalah level selanjutnya dari sekadar ‘kopi susu’.

4. Manual Brew (V60 atau Japanese Iced)

Proses Pembuatan Kopi Manual Brew V60
Foto: Unsplash/Sean Benesh

Selamat datang di dunia ‘slow bar’. Ini kopi yang diseduh manual, tanpa mesin espresso. Paling populer adalah V60 (metode pour over), atau Japanese Iced (V60 yang tetesannya langsung mendinginkan kopi di atas es).

Di sinilah karakter asli kopi benar-benar keluar. Karena diseduh perlahan dan menggunakan filter kertas, minyak dan ampas kopi tersaring. Hasilnya, rasa yang clean.

Lo akan kaget. Kopi hitam V60 seringkali nggak pahit pekat, tapi malah ringan dan clear seperti teh. Di sini notes rasa yang kompleks (seperti aroma bunga, buah beri, jeruk, atau cokelat) bakal terasa jelas. Ini adalah minuman wajib kalau lo mau paham istilah acidity atau body.

5. Single Origin (Kopi ‘Satu Daerah’)

Crop unrecognizable male showing pile of roasted coffee beans with pleasant scent on sunny day
Foto: Pixabay

Ini bukan jenis minuman, tapi jenis bijinya. Single Origin (SO) berarti biji kopi berasal dari satu wilayah, kebun, atau area spesifik. Misalnya, Gayo Aceh, Kintamani Bali, atau Ethiopia Yirgacheffe.

Ini adalah kunci dari semuanya. Saat lo pesan manual brew, tanyakan baristanya, “SO hari ini ada apa aja?” Coba pesan Gayo, lalu minggu depan coba Kintamani.

Lo akan kaget. Kopi Gayo mungkin terasa lebih earthy dan spicy. Di sisi lain, Kintamani mungkin terasa segar dengan notes jeruk. Ini adalah ‘geografi rasa’. Memahami ini adalah esensi dari jadi penikmat kopi, bukan cuma peminum kopi.

Jadi, Nongkrong Itu Soal Kopi atau Koneksi?

Pada akhirnya, nongkrong di kafe memang bukan cuma soal kopi. TNG Daily setuju, kafe adalah ‘ruang ketiga’. Tempat kita kerja, ketemu teman, atau sekadar melamun di tengah deadline.

Meskipun begitu, nggak ada salahnya kita sedikit upgrade pengetahuan. Mengapresiasi apa yang kita minum bikin pengalaman nongkrong jadi lebih mindful.

Kita nggak perlu jadi coffee snob yang menghakimi pesanan es kopi susu orang lain. Cukup jadi penasaran. Tanya baristanya. Coba sesuatu yang baru di luar zona nyaman. Siapa tahu, lo malah nemu favorit baru.

Menjadi ‘anak cafe’ versi 2.0 artinya kita nggak cuma hadir untuk WiFi gratis atau spot foto. Kita hadir untuk sebuah pengalaman—termasuk pengalaman rasa.

Jadi, akhir pekan ini, lo masih mau pesan menu yang sama, atau berani coba pesan espresso?

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: Oktober 23, 2025

Komentar Pembaca

  • Belum ada komentar di sini Jadilah yang pertama berkomentar
Home Trending Explore Discover Menu