Kenapa Makan Pedas Bisa Bikin Bahagia? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

S. Reja

Makan Pedas Bikin Bahagia
Foto: Pixabay/englishlikeanative

TNG Daily– Coba ngaku, siapa yang kalau makan bakso sambalnya harus dua sendok penuh? Atau pesan ayam geprek level 10 sambil keringetan, hidung meler, tapi tetap lanjut terus? Rasanya tersiksa, tapi kok dicari.

Buat sebagian orang, makan pedas itu siksaan. Tapi buat banyak orang Indonesia, justru makan pedas bisa bikin bahagia. Ini bukan cuma soal selera atau kebiasaan turun-temurun. Ternyata, ada penjelasan ilmiah keren di baliknya.

Kenapa sensasi “terbakar” ini malah bikin kita senyum-senyum puas?

Sensasi ‘Terbakar’ yang Menipu Otak

Pertama, kita harus kenalan dulu sama si biang kerok: capsaicin. Ini adalah senyawa aktif dalam cabai yang bikin lidah kita kayak kebakar.

Uniknya, capsaicin ini pintar menipu. Saat masuk ke mulut, dia mengikat diri pada reseptor saraf bernama TRPV1. Reseptor ini sebenarnya bertugas mendeteksi panas—seperti saat kita minum kopi yang terlalu panas.

Hasilnya? Capsaicin mengirim sinyal palsu ke otak kita. Sinyal itu bilang, “AWAS! MULUT KAMU TERBAKAR!”

Otak kita, yang panik tapi keren, langsung merespons seolah-olah kita dalam bahaya nyata. Padahal, kan, kita cuma lagi makan seblak.

Endorfin: ‘Bayaran’ dari Rasa Sakit

Di sinilah letak keajaibannya. Karena otak mengira tubuh sedang kesakitan hebat, ia otomatis masuk ke mode bertahan hidup.

Sistem pertahanan tubuh kita langsung melepaskan “obat” penghilang rasa sakit alami. Senyawa ini disebut endorfin.

Kalau kamu pernah dengar istilah runner’s high—perasaan senang luar biasa setelah olahraga berat—itulah kerjaan endorfin. Hormon ini adalah morfin alami tubuh yang fungsinya memblokir rasa sakit sekaligus memicu perasaan euforia atau bahagia.

Singkatnya, makan pedas bikin bahagia karena tubuh kita merespons rasa sakit “palsu” dari cabai dengan melepaskan hormon kebahagiaan. Sensasi perih di lidah itu adalah harga tiket untuk mendapatkan rush endorfin yang bikin nagih.

Ada Juga ‘Masokisme Jinak’

Meskipun begitu, faktornya bukan cuma kimia otak. Ada juga penjelasan psikologis yang menarik, yang disebut “masokisme jinak” atau benign masochism.

Istilah ini dipopulerkan oleh Paul Rozin, seorang psikolog dari University of Pennsylvania. Konsepnya sederhana: manusia menikmati sensasi yang sebenarnya negatif (seperti takut atau sakit) selama sensasi itu terjadi dalam konteks yang aman.

Kita tahu cabai itu pedas dan sakit, tapi kita juga tahu itu tidak akan membunuh kita. Kita mengendalikan rasa sakit itu.

Ini mirip seperti nonton film horor atau naik roller coaster. Kita sengaja mencari rasa takut dan deg-degan, karena setelah melewatinya, ada rasa lega dan bangga yang luar biasa. Kita berhasil “menaklukkan” bahaya tersebut.

Gaya Hidup ‘Level Pedas’ Anak Muda

Shelf displays various bottles of hot sauce.
Foto: Unsplash/Zoshua Colah

Fenomena ini sekarang jadi bagian dari gaya hidup. Coba lihat menu-menu kekinian, dari mi instan, ayam geprek, sampai seblak. Hampir semuanya menawarkan “level kepedasan”.

Ini bukan lagi cuma soal rasa, tapi sudah jadi tantangan.

Makan pedas jadi ajang pembuktian. Di media sosial, spicy challenge jadi konten yang laris ditonton. Ada elemen sosial di dalamnya; sensasi menderita bareng teman-teman saat mencoba ramen super pedas.

Di sisi lain, makan pedas juga bisa jadi pelarian. Saat sedang stres atau penat, sensasi pedas yang intens bisa mengalihkan pikiran kita sejenak. Fokus kita pindah dari masalah di kepala ke rasa panas di lidah.

Jadi, lain kali kamu kepedasan sampai hampir nangis tapi tetap nambah sambal, kamu tahu apa yang terjadi. Kamu bukan cuma sedang makan. Kamu sedang “menipu” otakmu untuk memproduksi kebahagiaan instan.

Sebuah siksaan nikmat yang kita ciptakan sendiri. Jadi, kamu tim yang nyari pedas buat rasa, atau buat sensasi bahagianya?

Disunting oleh: S. Reja

Terakhir disunting: Oktober 23, 2025

Komentar Pembaca

  • Belum ada komentar di sini Jadilah yang pertama berkomentar
Home Trending Explore Discover Menu