TNG Daily– Di era hustle culture yang menuntut kita produktif 24/7, “nongkrong” sering dianggap kegiatan gak penting. Padahal, sekadar ngopi dan ngobrol bareng teman punya dampak besar. Aktivitas ini bukan cuma soal eksis di media sosial, tapi jadi salah satu alasan kenapa nongkrong penting buat mental health kita. Ini bukan buang-buang waktu, ini adalah kebutuhan.
Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk sosial. Kita butuh terhubung. Tapi, koneksi yang kita maksud bukan sekadar balas DM atau reply Story.
Nongkrong Bukan Sekadar ‘Ngopi Cantik’, Tapi Kebutuhan Biologis
Sering gak sih kamu merasa recharged setelah ketemu sahabat, padahal cuma ngobrol ngalor-ngidul? Itu bukan sugesti, tapi ada penjelasan ilmiahnya.
Saat kita berinteraksi tatap muka secara positif, otak kita melepaskan hormon oksitosin. Ini adalah hormon yang sama saat kita merasa percaya, terikat, dan aman. Hasilnya, level kortisol (hormon stres) kita menurun drastis.
Selain itu, obrolan seru dan tawa lepas bareng teman juga memicu dopamin. Nongkrong secara harfiah bikin kita merasa lebih baik dan bahagia. Koneksi virtual lewat layar gak bisa menggantikan sensasi ini sepenuhnya.
Menangkal ‘Kabin Demam’ Digital dan Burnout
Banyak dari kita, anak muda urban, menghabiskan sebagian besar waktu di depan layar. Entah itu buat kerja (WFH), kuliah online, atau sekadar doom scrolling di media sosial.
Lingkaran setan ini menciptakan semacam “kabin demam” digital. Kita merasa terisolasi meski secara teknis “terhubung” dengan ratusan orang. Di sinilah pentingnya nongkrong jadi krusial.
Nongkrong memaksa kita ganti suasana. Keluar dari kamar, melihat dunia nyata, dan berinteraksi tanpa filter. Ini adalah tombol reset yang ampuh untuk otak yang lelah. Saat kita merasa burnout karena kerjaan atau tugas, nongkrong bisa jadi ruang aman untuk curhat dan mendapat perspektif baru.
Membangun ‘Jaring Pengaman’ Sosial (Support System)

Nongkrong bukan cuma soal tawa-tawa. Ini adalah proses kita merawat dan membangun support system alias jaring pengaman sosial.
Teman nongkrong yang suportif adalah orang-orang yang sering kali pertama sadar kalau kita lagi “kenapa-kenapa”. Mereka adalah tempat kita bisa jujur soal kegagalan, keraguan, dan kecemasan tanpa takut dihakimi.
Banyak studi, seperti yang dirangkum oleh American Psychological Association (APA), menunjukkan bahwa individu dengan support system yang kuat cenderung lebih tangguh menghadapi stres. Mereka punya risiko lebih rendah mengalami depresi dan kecemasan.
Singkatnya, teman nongkrongmu adalah garda terdepan buat kesehatan mentalmu.
Jadi, Nongkrong yang Sehat Itu Kayak Gimana?
Tentu saja, gak semua nongkrong itu sehat. Kalau kumpulannya malah bikin toksik, saling menjatuhkan, atau bikin dompet menjerit tiap minggu, itu beda cerita.
Nongkrong yang sehat dan penting buat mental health punya ciri khas:
- Kualitas, Bukan Kuantitas: Gak harus tiap hari. Yang penting, saat bertemu, obrolannya berkualitas. Ada deep talk, saling dengerin, bukan cuma pamer pencapaian.
- Hadir Sepenuhnya (Presence): Coba kurangi main HP saat lagi ngobrol. Koneksi nyata butuh kontak mata dan perhatian penuh.
- Tahu Batas: Nongkrong sehat gak bikin kamu “boncos” alias boros berlebihan. Esensi utamanya adalah kebersamaan, bukan seberapa mahal tempatnya. (Cari aja warkop atau kafe hidden gem di Tangerang yang nyaman buat ngobrol lama).
Pada akhirnya, nongkrong adalah investasi. Bukan investasi uang, tapi investasi untuk kewarasan mental kita di tengah dunia yang serba cepat. Meluangkan waktu untuk terhubung secara nyata adalah sebuah kemewahan yang kita semua butuhkan.
Jadi, kapan terakhir kali kamu nongkrong ‘beneran’—ngobrol tuntas tanpa sibuk lihat notifikasi HP?
Disunting oleh: S. Reja
Terakhir disunting: Oktober 23, 2025

